Friday, 18 August 2017

Tata Tertib Yang Digunakan Di Sekolah SMK

TATA TERTIB PESERTA DIDIK
SMK INFORMATIKA AL-IHYA


BAB I
KETENTUAN UMUM

Dalam tata tertib Peserta Didik tahun pelajaran 2016/2017 yang dimaksud dengan :

  • Tata tertib peserta didik adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur tata kehidupan peserta didik selama sekolah di SMK AL-IHYA.
  • Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada SMK INFORMATIKA AL-IHYA.
  • Proses belajar mengajar (PBM) adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar SMK INFORMATIKA AL-IHYA.
  • Pelanggaran tata tertib adalah setiap ucapan, perbuatan dan sikap peserta didik yang bertentangan dengan tata tertib sekolah.
  • Sanksi adalah tindakan yang dikenakan terhadap peserta didik yang melakukan pelanggaran tata tertib.
  • Remisi adalah keringanan atau pengurangan terhadap jumlah point pelanggaran yang dimiliki siswa akibat pelanggaran tata tertib.
  • Reward adalah bentuk penghargaan yang diberikan pihak sekolah kepada peserta didik yang memiliki prestasi sesuai ketentuan dari sekolah.


BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN TATA TERTIB PESERTA DIDIK


  1. Maksud tata tertib peserta didik adalah memberikan pedoman dalam pembinaan disiplin dan kepribadian peserta didik.
  2. Tujuan tata tertib peserta didik adalah mengatur dan memperlancar usaha pembinaan peserta didik yang berkarakter dan berkepribadian mulia.


BAB III
HAK , KEWAJIBAN, LARANGAN, DAN MASUK SEKOLAH

HAK
Setiap peserta didik mempunyai hak-hak sebagai berikut :

  1. Mendapat kenyamanan dan keamanan di lingkungan sekolah.
  2. Mendapatkan pelayanan urusan administrasi yang ramah dan memuaskan.
  3. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma susila yang berlaku dalam lingkungan sekolah.
  4. Memperoleh pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan Kompetensi Keahlian yang dipilih.
  5. Memanfaatkan fasilitas sekolah dalam rangka memperlancar proses belajar dengan rasa tanggung jawab.
  6. Mendapat bimbingan dari Pendidik yang bertanggung jawab atas program studi yang diikuti dalam penyelesaian studinya.
  7. Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikuti serta hasil belajarnya.
  8. Memperoleh layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  9. Ikut serta dalam kegiatan organisasi kesiswaan SMK INFORMATIKA AL-IHYA
  10. Memperolah pelayanan bimbingan konseling dalam mengatasi kesulitan Belajar, pribadi sosial, dan karir sehingga mengaktualisasikan diri sesuai dengan perkembangannya dari guru BP/BK.


KEWAJIBAN
Setiap peserta didik mempunyai kewajibansebagai berikut  :

  1. Memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila serta mentaati semua ketentuan hukum yang berlaku di negara Republik Indonesia.
  2. Menjalankan agama yang diikuti dengan sebaik-baiknya.
  3. Menjunjung tinggi nama baik sekolah, baik di dalam maupun di luar sekolah.
  4. Menghormati Kepala Sekolah, Guru, Karyawan dan sesama siswa.
  5. Memberi Salam ketika bertemu Kepala Sekolah, Guru, Karyawan dan Sesama siswa.
  6. Kegiatan Belajar Mengajar dimulai pukul 07.00 WIB.
  7. Siswa hadir masuk sekolah sesuai dengan ketentuan masuk sekolah yang telah ditetapkan.
  8. Memakai seragam sekolah dan atribut SMK INFORMATIKA AL-IHYA dengan rapi dan sopan sesuai dengan ketentuan sekolah yang telah ditetapkan.
  9. Menjaga potongan rambut dengan ketentuan :
    1. Bagi Siswa BROS dengan ketentuan 1-2-3 (Rapih dan Sopan tidak gondrong)
    2. Bagi Siswi yang rambutnya melebihi bahu harus dikucir atau dikepang.
    3. Rambut tidak disemir atau dicat warna.
  10. Menjadi anggota OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan ikut aktif dalam semua kegiatan yang di programkan.
  11. Mengikuti kegiatan Upacara Bendera, Jumat sehat,  dan kegiatan lainnya dengan tertib dan teratur.
  12. Mengikuti kegiatan Ekstrakulikuler Pramuka bagi kelas 10, 11, 12 dan minimal 1 macam kegiatan Ekstrakulikuler sesuai bakat dan minat, antara lain: Olahraga (Futsal, Basket, Boxer), PASKIBRA, PMR, English Conversation Club, Seni (Tari, Teatre), Go Green, Rohis (Kerohanian Islam).
  13. Menjaga 7K (Keamanan, Kebersihan, Kesehatan, Ketertiban, Kerindangan, Kekeluargaan, dan Keindahan).
  14. Selalu menjalankan/menjaga 5S (Senyum, Sapa, Santun, Sopan, ….. )
  15. Menggunakan dan merawat fasilitas sekolah dengan benar, sesuai dengan fungsinya.
  16. Melengkapi surat-surat dan perlengkapan lainnya bagi siswa yang menggunakan kendaraan bermotor dan parkir di tempat parkir siswa.
  17. Hadir dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar minimal 90% dari kaldik sekolah
  18. Menjaga barang-barang pribadi dengan sebaik-baiknya (kehilangan atas barang pribadi menjadi tanggung jawab peserta didik yang bersangkutan).
  19. Menjaga kebersihan sekolah dengan membuang sampah pada tempatnya.
  20. Membersihkan ruangan kelas pada jam terakhir pelajaran tiap harinya berdasarkan jadwal piket kebersihan kelas 


LARANGAN

  1. Berkelahi dengan siapapun
  2. Memakai make up dan perhiasan yang berlebihan
  3. Memanjangkan rambut dan jambang (bagi siswa putra), mewarnai rambut
  4. Memanjangkan kuku dan mewarnainya
  5. Mencorat-coret dinding, meja, kursi, atau merusak segala barang milik sekolah dan mengotori lingkungan sekolah
  6. Membawa, menyimpan senjata tajam, senjata api atau benda-benda lain yang membahayakan diri/ orang lain
  7. Makan dan minum selama proses belajar berlangsung
  8. Membawa/membaca/mengedarkan barang pornografi dalam bentuk apapun
  9. Membuat dan mengedarkan  fhoto maupun video asusila, ataupun hal-hal negative yang mencemarkan nama baik sekolah,  lalu mengunduhnya ke youtube /mediaplayer lain melalui brossing internet.
  10. Melakukan tindakan asusila, pornoaksi dan pornografi yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan agama
  11. Mengaktifkan HP, MP3, MP4, atau perangkat multimedia lainnya saat KBM dengan tanpa ijin
  12. Mengganggu siswa program strudi lain dalam satu lingkungan dengan bunyi-bunyian atau perilaku anarkis
  13. Merusak fasilitas sekolah baik sarana pembelajaran maupun lingkungan dan taman
  14. Mengenakan atribut yang mengandung muatan politik di lingkungan sekolah
  15. Menyebarkan fitnah dan isu yang berkaitan dengan SARA
  16. Melakukan tindakan yang mencemarkan nama baik seluruh komponen sekolah.
  17. Membawa menyimpan dan mengkonsumsi rokok
  18. Mengancam guru, karyawan dan teman
  19. Membawa alat permainan yang mengganggu kegiatan belajar mengajar
  20. Membawa dan mengkonsumsi minuman keras
  21. Membawa bahan peledak/mercon
  22. Berada di lingkungan kantin selama jam pelajaran (KBM berlangsung)
  23. Berjudi dalam bentuk permainan apapun, mencuri, memalak
  24. Memukul dan/atau menganiaya teman, guru dan karyawan
  25. Membawa, menyimpan, mengedarkan dan mengkonsumsi narkoba
  26. Meninggalkan sekolah tanpa ijin dari guru BK / Kasek / Guru Piket
  27. Merusak anggota badan dengan alasan seni dengan cara di tattoo maupun di tindik (Kuping, Lidah, Hidung).


MASUK SEKOLAH
Dalam hal masuk sekolah diatur sebagai berikut :

  1. Semua peserta didik harus hadir di sekolah sebelum pelajaran jam pertama dimulai ( 15 menit sebelum pelajaran siap di kelas ).
  2. Kegiatan pembelajaran diawali dan diakhiri dengan berdoa bersama dilanjutkan dengan tadarus Alquran saat memulai pelajaran pertama.
  3. Peserta didik yang terlambat diperkenankan masuk kelas setelah mendapat surat ijin masuk dari guru piket  atau BP/BK dengan dikenai sanksi sekolah berupa point pelanggaran dan pembinaan.
  4. Peserta didik tidak boleh meninggalkan kegiatan pembelajaran/sekolah sebelum  jam pembelajaran selesai kecuali mendapat ijin dari guru pelajaran dan guru piket atau BP/BK
  5. Ijin



    • Peserta didik yang tidak masuk dengan alasan ijin karena kepentingan/acara keluarga, orang tua/wali murid harus meminta ijin langsung ke sekolah menemui guru piket atau BP/BK kemudian sekolah akan memberikan surat ijin yang bersangkutan
    • Peserta didik yang ijin pada saat KBM berlangsung dan mendapat ijin dari guru Mapel/guru piket/BP dianggap masuk.


  1. Sakit     
    1. Peserta didik yang tidak masuk karena sakit harus dengan Surat Keterangan Dokter atau orang tua/wali murid datang ke sekolah dan  menyatakan bahwa peserta didik tersebut sakit
    2. Peserta didik yang tidak masuk tanpa keterangan (A) dan ternyata sakit dan dibuktikan dengan Surat Keterangan sakit dari Dokter maka peserta didik tersebut dinyatakan tidak hadir karena sakit
    3. Apabila disebabkan oleh sesuatu hal, maka surat keterangan sakit yang sah bisa diserahkan pada hari berikutnya (disusulkan)
  2. Alpa / A / Tidak Masuk Tanpa Keterangan
    1. Peserta didik yang tidak masuk tanpa keterangan dianggap alpa / A
    2. Peserta didik yang meninggalkan sekolah pada saat jam KBM berlangsung dianggap bolos



BAB IV
PELANGGARAN, SANKSI, PENYITAAN,
dan PEMBINAAN TERHADAP PELANGGARAN TATA TERTIB

PELANGGARAN

  1. Setiap pelanggaran yang dilakukan siswa akan mendapat sanksi berupa point dan sanksi pembinaan dari sekolah melalui guru mata pelajaran, wali kelas,  guru piket,  BP/BK dan kesiswaan.
  2. Jenis pelanggaran, skor dan sanksi ( diatur dalam penjelasan)


SANKSI

  1. Sanksi diberikan kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran.
  2. Sanksi diberikan bersifat mendidik untuk membentuk pesera didik yang lebih berkarakter dan memberikan efek jera terhadap pelanggaran peserta didik.
  3. Sanksi diberikan berupa pembentukan sikap, kebugaran, dan point pelanggaran.
  4. Jenis sanksi sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam pedoman skor poin dan sanksi.


PENYITAAN

  1. Ketentuan terhadap barang sitaan yang tidak mengandung unsur pornografi diatur sebagai berikut :
    1. Sekali pelanggaran : Disita dan boleh diambil oleh orang tua pada 2 minggu berikutnya
    2. Dua kali pelanggaran : Disita dan boleh diambil oleh orang tua setelah 2 bulan
    3. Tiga kali pelanggaran : Disita dan boleh diambil oleh orang tua setelah 6 bulan
    4. Empat kali pelanggaran : Disita dan boleh diambil oleh orang tua setelah satu tahun
    5. Lima kali pelanggaran : Disita dan boleh diambil oleh orang tua setelah  lulus
  2. Barang yang mengandung unsur pornografi:
    1. Handphone/laptop/barang elektronik disita minimal 1 tahun pelajaran dan dikembalikan setelah unsur pornografi dihilangkan. Pengambilan harus orang tua siswa yang bersangkutan.
    2. Unsur pornografi yang tidak disimpan di barang elektronik langsung dimusnahkan.
  3. Penyimpanan barang sitaan
    1. Barang elektronik yang disita ditempatkan di tempat yang telah ditentukan oleh sekolah.
    2. Kerusakan barang sitaan setelah disita bukan tanggung jawab sekolah.
    3. Knalpot tidak standar yang disita bisa diambil setelah diganti dengan knalpot standar.


PEMBINAAN TERHADAP PELANGGARAN TATA TERTIB

  1. Setiap pelanggaran yang sudah mencapai point tertentu akan diberikan pembinaan.
  2. Pembinaan diberikan secara berkesinambungan dengan melibatkan Guru , Wali Kelas, BP/BK, Ketua Kompetensi Keahlian, WKS, Kepala Sekolah dan Orang tua

Saturday, 22 September 2012

Pembelajaran Bahasa

Seringkali mahasiswa bingung ketika akan menghadapi Ujian Skripsi, terutama dalam penentuan judul Skripsi yang akan diajukan untuk Skripsinya. Tapi jangan khawatir untuk kamu-kamu yang berasal dari jurusan Pendidikan Bahasa bisa menggunakan atau memakai judul yang saya postkan ini.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TAKE AND GIVE DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM BERBICARA BAHASA ASING
Untuk Langkah selanjutnya seperti biasa : BAB I berisi Latar Belakang Penelitian, Keramgka Penelitian,dsb, BAB II Hipotesis,Teori yang dipakai dsb. BAB III Pembahasan Penelitian yang kita lakukan,dsb. BAB IV.  seperti biasa.
Namun Hal yang penting untuk di ingat bahwa setiap Institut atau Universitas memiliki format Penulisannya sendiri. Terutama Universitas atau Institut yang berbasis Islam dengan Universitas atau Institut yang berbasis Umum apalagi berbasis IT.

Langkah-Langkah Penelitian

Metode dan Teknik Pengumpulan Data
a. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang diarahkan untuk memecahkan masalah dengan cara memaparkan atau menggambarkan apa adanya hasil penelitian. Ketatapan metode ini juga bedasarkan pendapat Yaya Suryana dan Tedi Priatna (2009:105) yang menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu penelitian yang diupayakan untuk mencandra atau mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat objek tertentu.
Adapun pelaksanaan metode deskriptif ini tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan data dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis, maka dapat terjadi penelitian deskriptif dengan membandingkan kesamaan dan perbedaan fenomena tertentu, menghubungkan dua variabel lalu mengambil bentuk studi kuantitatif, angket, dan lain-lain.
b. Teknik Pengumpulan Data
Di dalam kegiatan penelitian, diperlukan data dan informasi yang dapat mempermudah pembahasan selanjutnya, untuk itu diprlukan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga tercapai tujuan penelitian yang diharapkan. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dapat diuraikan sebagi berikut:
1) Observasi
Observasi merupakan teknik pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki. Observasi dilakukan untuk menemukan data dan informasi dari gejala-gejala atau fenomena (kejadian-kejadian atau peristiw-peristiwa) secara sistematis dan dirasakan pada tujuan penyelidikan yang telah dirumuskan (Yaya Suryana dan Tedi Priatna, 2009:193).
 Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain (Sugiyono, 2010:203).
Dalam menggunakan motode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi (Suharsimi Arikunto, 2006:229).
2) Angket (Questionnaire)
Kuesioner (Questionnaire), juga disebut angket atau daftar pertanyan yang merupakan salah satu alat pengumpul data. Menurut Sugiyono (2010:199) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Untuk angket variabel X yaitu tanggapan siswa terhadap penerapan model belajar mind mapping menggunakan bentuk angket jawaban tertutup, yaitu angket yang setiap pertanyaanya sudah tersedia berbagai alternatif jawaban (Zaenal Arifin, 2009:167), dengan disertai oleh 5 alternatif jawaban a, b, c, d, dan e.  Mengingat penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dua variabel maka perhitungannya didasarkan pada nilai masing-masing jawaban.
3) Studi Literatur/Kepustakaan
Untuk memperkuat hasil penelitian maka digunakan buku-buku atau bahan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Studi kepustakaan disini adalah pendaya gunaan informais yang terdapat dalam berbagai literatur untuk menggali konsep-konsep dasar yang ditemukan para ahli untuk membantu memecahkan masalah dalam penelitian ini.
4) Wawancara
Salah satu teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung yaitu wawancara yang dilakukan secara langsung terhadap orang yang di wawancara yaitu kepala sekolah SMP Pasundan Purwakarta dan kepada guru PAI yang bersangkutan. Wawancara adalah teknik pengumpulan data denga mengajukan pertanyaan kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam (Yaya Suryana dan Tedi Priatna, 2009:200).
5) Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Yaya Suryana dan Tedi Priatna 2009:215). Pada penelitian ini diberikan tes kepada 76 respoden yaitu siswa kelas VIII SMP Pasundan Purwakarta, yaitu untuk mengetahui realitas variabel Y (Pemahaman belajar mereka pada mata pendidikan agama islam (PAI). Adapun jenis tes yang diberikan adalah bentuk pertanyaan tertutup yang jawabannya telah disediakan dan tinggal dipilih oleh responden.
4. Analisis Data
Setelah semua data diperoleh dengan kelima alat pengumpul data, maka langkah selanjutnya adalah proses analisis data. Melihat data yang dipeoleh berupa data-data kuantitatif dan kualitatif yang telah di oleh kedalam angka, maka analisis data dilakukan melalui prosedur perhitungan statistik.


Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penyusunan karya ilmiah (skripsi) untuk memperoleh gelar sarjana seorang mahasiswa harus melewati sidang skripsi terlebih dahulu. untuk menyusun sebuah skripsi harus dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk memperoleh informasi akan disajikan dalam pembahasan skripsi.

Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan peneliti harus terjun langsung ke lokasi. Demi keabsahan informasi yang diperoleh maka peneliti harus menggunakan Metode dan Teknik Pengumpulan Data yang telah disepakati para ahli. Terdapat dua metode, yaitu metode deskriptif dan metode analisis. 
  • Metode 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang diarahkan untuk memecahkan masalah dengan cara memaparkan atau menggambarkan apa adanya hasil penelitian. Ketatapan metode ini juga bedasarkan pendapat Yaya Suryana dan Tedi Priatna yang menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu penelitian yang diupayakan untuk mencandra atau mengamati permasalahan secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat objek tertentu.

Adapun pelaksanaan metode deskriptif ini tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan data dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis, maka dapat terjadi penelitian deskriptif dengan membandingkan kesamaan dan perbedaan fenomena tertentu, menghubungkan dua variabel lalu mengambil bentuk studi kuantitatif, angket, dan lain-lain. Dalam mengumpulkan data juga harus mengikuti beberapa teknik pengumpulan data demi keabsahan informasi yang kita dapatkan. Beberapa teknik pengumpulan data seperti yang akan di jelaskan di bawah ini.
  • Teknik Pengumpulan Data
Di dalam kegiatan penelitian, diperlukan data dan informasi yang dapat mempermudah pembahasan selanjutnya, untuk itu diprlukan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga tercapai tujuan penelitian yang diharapkan. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dapat diuraikan sebagi berikut: 
  1. Observasi
Observasi merupakan teknik pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomena-fenomena yang diselidiki. Observasi dilakukan untuk menemukan data dan informasi dari gejala-gejala atau fenomena (kejadian-kejadian atau peristiw-peristiwa) secara sistematis dan dirasakan pada tujuan penyelidikan yang telah dirumuskan.
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain
Dalam menggunakan motode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi (Suharsimi Arikunto).   
  1. Angket (Questionnaire)
Kuesioner (Questionnaire), juga disebut angket atau daftar pertanyan yang merupakan salah satu alat pengumpul data. Menurut Sugiyono kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Untuk angket variabel X yaitu tanggapan siswa terhadap penerapan model belajar mind mapping menggunakan bentuk angket jawaban tertutup, yaitu angket yang setiap pertanyaanya sudah tersedia berbagai alternatif jawaban, dengan disertai oleh 5 alternatif jawaban a, b, c, d, dan e.  Mengingat penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dua variabel maka perhitungannya didasarkan pada nilai masing-masing jawaban

  1. Studi Literatur/Kepustakaan

Untuk memperkuat hasil penelitian maka digunakan buku-buku atau bahan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Studi kepustakaan disini adalah pendaya gunaan informais yang terdapat dalam berbagai literatur untuk menggali konsep-konsep dasar yang ditemukan para ahli untuk membantu memecahkan masalah dalam penelitian ini.

  1. Wawancara

Salah satu teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung yaitu wawancara yang dilakukan secara langsung terhadap orang yang di wawancara yaitu kepala sekolah dan kepada guru Pamong yang bersangkutan. Wawancara adalah teknik pengumpulan data denga mengajukan pertanyaan kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam 

  1. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Pada penelitian ini diberikan tes kepada respoden yaitu siswa kelas VIII SMP Pangandaran, yaitu untuk mengetahui realitas variabel Y (Pemahaman belajar mereka pada mata pendidikan agama islam (PAI). Adapun jenis tes yang diberikan adalah bentuk pertanyaan tertutup yang jawabannya telah disediakan dan tinggal dipilih oleh responden.
4. Analisis Data
Setelah semua data diperoleh dengan kelima alat pengumpul data, maka langkah selanjutnya adalah proses analisis data. Melihat data yang dipeoleh berupa data-data kuantitatif dan kualitatif yang telah di oleh kedalam angka, maka analisis data dilakukan melalui prosedur perhitungan statistik.


Contoh Judul Skripsi Syari'ah

Jika kita cermat mengamati kondisi disekitar kita, kita bisa menemukan suatu topik untuk judul skripsi kita. Kondisi yang kita amati hendaknya sesuai dengan kebutuhan kita. Ingat prinsip produksi "Produksi akan terus berlanjut jika produksi kita dibutuhkan masyarakat umum". Karena syari'ah berhubungan dengan keuangan tentunya akan berhubungan pula dengan produksi baik produksi barang maupun produksi jasa.
Nah disini ada beberapa contoh judul yang bisa kita amati lalu kita teliti:


  1. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Dan Pengaruhnya Terhadap Taraf Kesejahteraan Masyarakat Tersebut
  2. Perbedaan Bank Konvensional Dan Bank Berlogo Syari'ah Serta Aplikasi Dan Implikasinya Terhadap Keberadaan Bank Tersebut
  3. Daya Jual Jasa Koperasi Dan Implikasinya Terhadap Kesejahteraan Anggotanya
Sekian dulu judul yang saya postkan untuk masalah ekonomi nanti disambung lagi. Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.


Thursday, 21 June 2012

Contoh Skripsi PAI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa merupakan dua unsur yang melakukan interaksi secara langsung. Interaksi tersebut berlangsung terus menerus sebagai usaha mencari, memperoleh, menerapkan, mengubah pengetahuan, sikap tingkah laku serta nilai-nilai dalam kondisi edukatif. 

Guna menunjang interaksi belajar mengajar yang baik terutama untuk membangkitkan gairah belajar siswa, diperlukan metode yang baik dalam belajar. Metode adalah sebuah cara. Adapun yang dimaksud metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyampaian materi pelajaran kepada siswa (Muhibbin Syah, 1999:72).
Pentingnya peranan metode pengajaran karena ia tidak terpisahkan dari sistem pengajaran tertentu. Oleh karena itu peranan metode mengajar adalah sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru, dengan kata lain terciptanya interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai yang dibimbing. Menurut Nana Sudjana (1998:76) bahwa metode mengajar dikatakan baik apabila metode tersebut menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Dalam kenyataan sehari-hari tak jarang kita temukan sejumlah guru yang mampu memilih metode yang tepat untuk mengajarkan materi tertentu, namun kurang mampu mengaplikasikannya secara baik, kurang memenuhi prosedur baku, bahkan dapat merugikan semua pihak terutama pihak siswa dan keluarga.
Untuk mengantisipasi kemungkinan gagalnya proses pengajaran seperti tadi, sudah sepantasnya guru mengkaji ulang secara cermat metode-metode mengajar yang relevan dengan pokok bahasan bidang studi. Pengkajian ulang metode-metode tersebut akan lebih bermakna apabila guru dapat mempraktekan penggunaannya dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Kegiatan pengkajian ulang seperti itu seyogyanya mendapat perhatian khusus dari para guru agar tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.
Menurut Muhibbin Syah (1995:203) bahwa pada prinsipnya tidak satu pun metode yang dipandang sempurna dan cocok dengan semua pokok bahasan yang ada dalam setiap bidang studi. Karena setiap metode mengajar pasti memiliki kelebihan dan kekurangan yang khas.
Sebaliknya guru yang profesional dan kreatif justru hanya akan memilih metode mengajar yang lebih tepat setelah menetapkan topik pembahasan materi dan tujuan pembelajaran serta jenis kegiatan belajar siswa yang dibutuhkan. Kegiatan ini dibanding-bandingkan dengan ciri khas atau karakteristik metode-metode mengajar yang akan dipilih.
Melalui metode pengajaran yang benar sesuai dengan prosedur pengajaran yang sudah ditentukan dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, maka akan tercipta suatu proses belajar mengajar yang baik. Karena berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar itu tergantung dari metode mengajarnya.
Sementara itu secara empiris di SD VIII Cilamaya Karawang, telah berlangsung penerapan metode cerita yang diterapkan dalam proses belajar mengajar. Metode tersebut diterapkan dengan cara-cara menceritakan kisah-kisah yang berhubungan dengan proses belajar mengajar, meliputi kisah-kisah yang baik dan yang buruk. Hal itu dimaksudkan agar siswa dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang harus dikerjakan dan ditinggalkan.
Cerita-cerita yang diberikan oleh guru kepada siswanya itu bersumber dari al-Quran dan Hadits. Salah satu contonya yaitu cerita dua putra Nabi Adam. Cerita ini menjelaskan tentang adanya sikap iri dan dengki serta permusuhan dari salah satu dua bersaudara tersebut (Qabil) sebagaimana adanya penuh kasih dan rasa toleransi dari pihak saudara yang lain (Habil).
Masalah-masalah di atas mengundang pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah semula, yakni bagaimanakah tanggapan siswa mengenai penerapan metode cerita dalam proses belajar mengajar? Permasalahan berikutnya apakah tanggapan itu mempengaruhi minat belajar siswa dalam mengikuti bidang studi Pendidikan Agama Islam? Untuk mengangkat permasalahan-permasalahan tersebut, maka penelitian ini dituangkan dalam judul berikut: “TANGGAPAN SISWA TERHADAP METODE CERITA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGANNYA DENGAN MINAT BELAJAR PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM”

Contoh Skripsi Bahasa Arab

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi semakin pesat. Dimana setiap peristiwa yang terjadi dan setiap berita yang disaji dalam waktu yang tidak lama akan tersalur dan tersampaikan ke seluruh dunia.
Perkembangan dan kemajuan apapun yang terjadi di alam fatamorgana ini tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa cukup berperan penting dalam perkembangannya.
Dengan demikian sudah menjadi keharusan bagi semua kalangan untuk mempelajari bahasa. Bahasa merupakan unsur kebudayaan yang lahir dari kebutuhan dasar manusia dalam meningkatkan peradabannya. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi antar manusia juga berperan sebagai alat berpikir, mengungkapkan prasarana sekaligus lambing agama dan pemersatu umat khususnya bahasa arab.
Bahasa Arab merupakan bahasa tertua dari rumpun bahasa semit, sama dengan Ibrani, Aramik, Suryani, Kaidoa dan Babylonia. Bahasa-bahasa yang sejaman dengan bahasa Arab tersebut setelah menjadi status, sementara bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci Al-Qur’an tetap menjadi bahasa hidup, disamping memiliki pesona kebahasaan juga mempunyai daya pikat yang menembus perjalanan sejarah yang dilaluinya. Contoh Proposal Skripsi Bahasa Arab.
Keistimewaan yang dimiliki oleh bahasa Arab selayaknya member motivasi bagi umat Islam khususnya bagi pengkaji bahasa Arab, baik sebagai bahasa agama, bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi maupun bahasa komunikasi internasional. Diharapkan dengan motivasi tersebut para generasi siap berperan aktif untuk belajar maupun mengajar bahasa Arab.
Perlu disadari bahwa pengajaran bahasa Arab adalah suatu proses pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong membimbing dan mengembangkan serta membina kemampuan bahasa Arab peserta didik baik secara aktif maupun pasif. Saat itu juga dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Arab. Pembelajaran bahasa Arab ini merupakan proses pembelajaran peserta didik agar mereka mampu menyimak, berbicara dan nonterjemah. Oleh karena itu pengajarannya harus mengacu pada pemberian bekal kepada peserta didik agar mereka dapat berkomunikasi secara aktif dan pasif.
Seorang pendidik yang selalu berkecimpung dalam proses pembelajaran, jika ia benar-benar menginginkan agar tujuan dapat dicapai secara efektif maka, penguasaan materi tidaklah cukup, kepribadian guru adalah hal yang mendasar dalam mendidik, mengajar ataupun mengarahkan peserta didik. Jika seseorang menyenangi sesuatu maka cela dan aib apa saja dia temukan dipandang dengan mata yang tumpul, bila seseorang tidak menyenangi sesuatu maka apa saja yang dilihatnya pada orang itu selalu saja dipandang tidak baik.
Dengan demikian apabila kepribadian guru disenangi oleh siswa maka apa saja yang ada kaitan dengan guru tersebut misalkan bahasa Arab yang diajarkannya akan disenangi sehingga minat untuk mempelajari bahasa Arab akan menguat dan meningkat, sebaliknya apabila kepribadian guru tidak disenangi oleh siswa atau peserta didik maka apa saja yang berkaitan dengan guru tersebut misalkan bahasa Arab yang diajarkannya akan disenangi dan minat untuk mempelajari bahasa Arab menurun dan berkurang.
Karena kegiatan belajar mengajar terjadi interaksi unsur. Ia manusia, maka hendaknya guru adalah pembimbing, pengajar, pelatih dan juga sebagai contoh atau cermin tempat anak didik dapat berkata, dalam relasi interpersonal antara guru dan anak didik tercipta situasi yang memungkinkan anak didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang dapat dijadikan pembentukan kepribadian anak. Guru dalam perilaku anak hendaknya memberi dan menjadi contoh bagi diri anak didik.
Guru menempati kedudukan sangat sentral dalam lembaga pendidikan karena gurunya yang sangat menentukan. Sebab gurulah yang menterjemahkan nilai-nilai pendidikan kepada siswa. Harapan yang tidak akan pernah sirna kepada guru dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik adalah bagaimana pelajaran yang disampaikannya dapat dipahami dan dikuasai oleh siswa, khususnya bahasa Arab.
Sesuatu yang anda pikiran itulah sesuatu yang anda inginkan, sesuatu yang anda bicarakan itulah sesuatu yang anda inginkan sesuatu yang anda lakukan itulah sesuatu yang anda inginkan. Alam diliputi hukum tarik menarik. Pikiran adalah frekuensi hukum tersebut, maka berpikiran pada apa yang anda inginkan hukum akan menariknya.
Dengan demikian, di samping penguasaan materi, pikiran, perkataan maupun perbuatan yang dapat diistilahkan kepribadian seorang guru adalah suatu hal yang patut diperhatikan dalam pencapaian tujuan proses pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Arab. Oleh karena itu penulis merasa terpanggil guna berperan aktif meneliti
PENGARUH KEPRIBADIAN GURU TERHADAP MINAT BELAJAR BAHASA ARAB SISWA KELAS III MADRASAH ALIYAH SYEKH YUSUF SUNGGUMINASA GOWA.

Blog Archives